Selasa, 23 Februari 2010

SEJARAH DIRGANTARA INDONESIA

A. PRA KEMERDEKAAN
Pada tahun 1937, delapan tahun sebelum kemerdekaan atas permintaan seorang pengusaha, serta hasil rancangan LW. Walraven dan MV. Patist putera-putera Indonesia yang dipelopori Tossin membuat pesawat terbang di salah satu bengkel di Jl. Pasirkaliki Bandung dengan nama PK.KKH. Pesawat ini sempat menggegerkan dunia penerbangan waktu itu karena kemampuannya terbang ke Belanda dan daratan Cina pergi pulang yang diterbang pilot berkebangsaan Perancis, A. Duval. Bahkan sebelum itu, sekitar tahun 1922, manusia Indonesia sudah terlibat memodifikasi sebuah pesawat yang dilakukan di sebuah rumah di daerah Cikapundung sekarang.

Pada tahun 1938 atas permintaan LW. Walraven dan MV. Patist - perancang PK.KKH - dibuat lagi pesawat lebih kecil di bengkel Jl. Kebon Kawung, Bandung.

Pesawat PK.KKH yang dibuat tahun 1937 di Bandung , di mana putera-putera Indonesia terlibat dalam proses pembuatannya.

B. PASCA KEMERDEKAAN dan PERANG KEMERDEKAAN
Segera setelah kemerdekaan, 1945, makin terbuka kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan impiannya membuat pesawat terbang sesuai dengan rencana dan keinginan sendiri. Kesadaran bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas akan selalu memerlukan perhubungan udara secara mutlak sudah mulai tumbuh sejak waktu itu, baik untuk kelancaran pemerintahan, pembangunan ekonomi dan pertahanan keamanan.

Pada masa perang kemerdekaan kegiatan kedirgantaraan yang utama adalah sebagai bagian untuk memenangkan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dalam bentuk memodifikasi pesawat yang ada untuk misi-misi tempur. Tokoh pada massa ini adalah Agustinus Adisutjipto, yang merancang dan menguji terbangkan dan menerbangkan dalam pertempuran yang sesungguhnya. Pesawat Cureng/Nishikoren peninggalan Jepang yang dimodifikasi menjadi versi serang darat. Penerbangan pertamanya di atas kota kecil Tasikmalaya pada Oktober 1945.

Pada tahun 1946, di Yogyakarta dibentuk Biro Rencana dan Konstruksi pada TRI-Udara. Dengan dipelopori Wiweko Soepono, Nurtanio Pringgoadisurjo, dan J. Sumarsono dibuka sebuah bengkel di bekas gudang kapuk di Magetan dekat Madiun. Dari bahan-bahan sederhana dibuat beberapa pesawat layang jenis Zogling, NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider). Pembuatan pesawat ini tidak terlepas dari tangan-tangan Tossin, Akhmad, dkk. Pesawat-pesawat yang dibuat enam buah ini dimanfaatkan untuk mengembangkan minat dirgantara serta dipergunakan untuk memperkenalkan dunia penerbangan kepada calon penerbang yang saat itu akan diberangkatkan ke India guna mengikuti pendidikan dan latihan.

Selain itu juga pada tahun 1948 berhasil dibuat pesawat terbang bermotor dengan mempergunakan mesin motor Harley Davidson diberi tanda WEL-X hasil rancangan Wiweko Soepono dan kemudian dikenal dengan register RI-X. Era ini ditandai dengan munculnya berbagai club aeromodeling, yang menghasilkan perintis teknologi dirgantara, yaitu Nurtanio Pringgoadisurjo.

Pesawat rancangan Wi-weko Soepono diberi tanda WEL-X yang dibuat pada tahun 1948, dengan menggunakan mesin Harley Davidson

Kemudian kegiatan ini terhenti karena pecahnya pemberontakan Madiun dan agresi Belanda.

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia usaha di atas dilanjutkan kembali di Bandung di lapangan terbang Andir - kemudian dinamakan Husein Sastranegara. Tahun 1953 kegiatan ini diberi wadah dengan nama Seksi Percobaan. Beranggotakan 15 personil, Seksi Percobaan langsung di bawah pengawasan Komando Depot Perawatan Teknik Udara, Mayor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo.

Berdasarkan rancangannya pada 1 Agustus 1954 berhasil diterbangkan prototip "Si Kumbang", sebuah pesawat serba logam bertempat duduk tunggal yang dibuat sesuai dengan kondisi negara pada waktu itu. Pesawat ini dibuat tiga buah.






Pada 24 April 1957, Seksi Percobaan ditingkatkan menjadi Sub Depot Penyelidikan, Percobaan & Pembuatan berdasar Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara No. 68.

Setahun kemudian, 1958 berhasil diterbangkan prototip pesawat latih dasar "Belalang 89" yang ketika diproduksi menjadi Belalang 90. Pesawat yang diproduksi sebanyak lima unit ini dipergunakan untuk mendidik calon penerbang di Akademi Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Di tahun yang sama berhasil diterbangkan pesawat oleh raga "Kunang 25". Filosofinya untuk menanamkan semangat kedirgantaraan sehingga diharapkan dapat mendorong generasi baru yang berminat terhadap pembuatan pesawat terbang.

PENDIRIAN INDUSTRI PESAWAT TERBANG
A. PERINTISAN

Ada lima faktor menonjol yang menjadikan IPTN berdiri, yaitu : ada orang-orang yang sejak lama bercita-cita membuat pesawat terbang dan mendirikan industri pesawat terbang di Indonesia; ada orang-orang Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi membuat dan membangun industri pesawat terbang; adanya orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdedikasi tinggi menggunakan kepandaian dan ketrampilannya bagi pembangunan industri pesawat terbang; adanya orang yang mengetahui cara memasarkan produk pesawat terbang secara nasional maupun internasional; serta adanya kemauan pemerintah.7) Perpaduan yang serasi faktor-faktor di atas menjadikan IPTN berdiri menjadi suatu industri pesawat terbang dengan fasilitas yang memadai. Awalnya seorang pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, Bacharudin Jusuf Habibie. Ia menimba pendidikan di Perguruan Tinggi Teknik Aachen, jurusan Konstruksi Pesawat Terbang, kemudian bekerja di sebuah industri pesawat terbang di Jerman sejak 1965. Menjelang mencapai gelar doktor, tahun 1964, ia berkehendak kembali ke tanah air untuk berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Tetapi pimpinan KOPELAPIP menyarankan Habibie untuk menggali pengalaman lebih banyak, karena belum ada wadah industri pesawat terbang. Tahun 1966 ketika Menteri Luar Negeri, Adam Malik berkunjung ke Jerman beliau meminta Habibie, menemuinya dan ikut memikirkan usaha-usaha pembangunan di Indonesia. Menyadari bahwa usaha pendirian industri tersebut tidak bisa dilakukan sendiri., maka dengan tekad bulat mulai merintis penyiapan tenaga terampil untuk suatu saat bekerja pada pembangunan industri pesawat terbang di Indonesia yang masih dalam angan-angan. Habibie segera berinisiatif membentuk sebuah tim. Dari upaya tersebut berhasil dibentuk sebuah tim sukarela yang kemudian berangkat ke Jerman untuk bekerja dan menggali ilmu pengetahuan dan teknologi di industri pesawat terbang Jerman tempat Habibie bekerja. Awal tahun 1970 tim ini mulai bekerja di HFB/MBB untuk melaksanakan awal rencana tersebut. Pada saat bersamaan usaha serupa dirintis oleh Pertamina selaku agen pembangunan. Kemajuan dan keberhasilan Pertamina yang pesat di tahun 1970 an memberi fungsi ganda kepada perusahaan ini, yaitu sebagai pengelola industri minyak negara sekaligus sebagai agen pembangunan nasional. Dengan kapasitas itu Pertamina membangun industri baja Krakatau Steel. Dalam kapasitas itu, Dirut Pertamina, Ibnu Sutowo (alm) memikirkan cara mengalihkan teknologi dari negara maju ke Indonesia secara konsepsional yang berkerangka nasional. Alih teknologi harus dilakukan secara teratur, tegasnya. Awal Desember 1973, terjadi pertemuan antara Ibnu Sutowo dan BJ. Habibie di Dusseldorf - Jerman. Ibnu Sutowo menjelaskan secara panjang lebar pembangunan Indonesia, Pertamina dan cita-cita membangun industri pesawat terbang di Indonesia. Dari pertemuan tersebut BJ. Habibie ditunjuk sebagai penasehat Direktur Utama Pertamina dan kembali ke Indonesia secepatnya. Awal Januari 1974 langkah pasti ke arah mewujudkan rencana itu telah diambil. Di Pertamina dibentuk divisi baru yang berurusan dengan teknologi maju dan teknologi penerbangan. Dua bulan setelah pertemuan Dusseldorf, 26 Januari 1974 BJ. Habibie diminta menghadap Presiden Soeharto. Pada pertemuan tersebut Presiden mengangkat Habibie sebagai penasehat Presiden di bidang teknologi. Pertemuan tersebut merupakan hari permulaan misi Habibie secara resmi. Melalui pertemuan-pertemuan tersebut di atas melahirkan Divisi Advanced Technology & Teknologi Penerbangan Pertamina (ATTP) yang kemudian menjadi cikal bakal BPPT. Dan berdasarkan Instruksi Presiden melalui Surat Keputusan Direktur Pertamina dipersiapkan pendirian industri pesawat terbang. September 1974, Pertamina - Divisi Advanced Technology menandatangani perjanjian dasar kerjasama lisensi dengan MBB - Jerman dan CASA - Spanyol untuk memproduksi BO-105 dan C-212. B. PENDIRIAN Ketika upaya pendirian mulai menampakkan bentuknya - dengan nama Industri Pesawat Terbang Indonesia/IPIN di Pondok Cabe, Jakarta - timbul permasalahan dan krisis di tubuh Pertamina yang berakibat pula pada keberadaan Divisi ATTP, proyek serta programnya - industri pesawat terbang. Akan tetapi karena Divisi ATTP dan proyeknya merupakan wahana guna pembangunan dan mempersiapkan tinggal landas bagi bangsa Indonesia pada Pelita VI, Presiden menetapkan untuk meneruskan pembangunan industri pesawat terbang dengan segala konsekuensinya. Maka berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 12, tanggal 15 April 1975 dipersiapkan pendirian industri pesawat terbang. Melalui peraturan ini, dihimpun segala aset, fasilitas dan potensi negara yang ada yaitu : - aset Pertamina, Divisi ATTP yang semula disediakan untuk pembangunan industri pesawat terbang dengan aset Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio/LIPNUR, AURI - sebagai modal dasar pendirian industri pesawat terbang Indonesia. Penggabungan aset LIPNUR ini tidak lepas dari peran Bpk. Ashadi Tjahjadi selaku pimpinan AURI yang mengenal BJ. Habibie sejak tahun 1960an.Dengan modal ini diharapkan tumbuh sebuah industri pesawat terbang yang mampu menjawab tantangan jaman. Tanggal 28 April 1976 berdasar Akte Notaris No. 15, di Jakarta didirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dengan Dr, BJ. Habibie selaku Direktur Utama. Selesai pembangunan fisik yang diperlukan untuk berjalannya program yang telah dipersiapkan, pada 23 Agustus 1976 Presiden Soeharto meresmikan industri pesawat terbang ini. Dalam perjalanannya kemudian, pada 11 Oktober 1985, PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio berubah menjadi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN. Dari tahun 1976 cakrawala baru tumbuhnya industri pesawat terbang modern dan lengkap di Indonesia di mulai. Di periode inilah semua aspek prasarana, sarana, SDM, hukum dan regulasi serta aspek lainnya yang berkaitan dan mendukung keberadaan industri pesawat terbang berusaha ditata. Selain itu melalui industri ini dikembangkan suatu konsep alih/transformasi teknologi dan industri progresif yang ternyata memberikan hasil optimal dalam penguasaan teknologi kedirgantaraan dalam waktu relatif singkat, 24 tahun.
CN-235 dan N250, hasil penguasaan teknologi putera-puteri Indonesia yang dirintis BJ. Habibie
IPTN berpandangan bahwa alih teknologi harus berjalan secara integral dan lengkap mencakup hardware, software serta brainware yang berintikan pada faktor manusia. Yaitu manusia yang berkeinginan, berkemampuan dan berpen- dirian dalam ilmu, teori dan keahlian untuk melaksanakannya dalam bentuk kerja. Berpijak pada hal itu IPTN menerapkan filosofi transformasi teknologi "BERMULA DI AKHIR, BERAKHIR DI AWAL". Suatu falsafah yang menyerap teknologi maju secara progresif dan bertahap dalam suatu proses yang integral dengan berpijak pada kebutuhan obyektif Indonesia. Melalui falsafah ini teknologi dapat dikuasai secara utuh menyeluruh tidak semata-mata materinya, tetapi juga kemampuan dan keahliannya. Selain itu filosofi ini memegang prinsip terbuka, yaitu membuka diri terhadap setiap perkembangan dan kemajuan yang dicapai negara lain. Filosofi ini mengajarkan bahwa dalam membuat pesawat terbang tidak harus dari komponen dulu, tapi langsung belajar dari akhir suatu proses (bentuk pesawat jadi), kemudian mundur lewat tahap dan fasenya untuk membuat komponen. Tahap alih teknologi terbagi dalam :
  • Tahap penggunaan teknologi yang sudah ada/lisensi,
  • Tahap integrasi teknologi,
  • Tahap pengembangan teknologi,
  • Tahap penelitian dasar

    Sasaran tahap pertama, adalah penguasaan kemampuan manufacturing, sekaligus memilih dan menentukan jenis pesawat yang sesuai dengan kebutuhan dalam negeri yang hasil penjualannya dimanfaatkan menambah kemampuan berusaha perusahaan. Di sinilah dikenal metode "progressif manufacturing program". Tahap kedua dimaksudkan untuk menguasai kemampuan rancangbangun sekaligus manufacturing. Tahap ketiga, dimaksudkan meningkatkan kemampuan rancangbangun secara mandiri. Sedang tahap keempat dimaksudkan untuk menguasai ilmu-ilmu dasar dalam rangka mendukung pengembangan produk-produk baru yang unggul.

    PARADIGMA BARU DAN NAMA BARU
    Selama 24 tahun IPTN relatif berhasil melakukan transformasi teknologi, sekaligus menguasai teknologi kedirgantaraan dalam hal disain, pengembangan, serta pembuatan pesawat komuter regional kelas kecil dan sedang.

    Dalam rangka menghadapi dinamika jaman serta sistem pasar global, IPTN meredifinisi diri ke dalam "DIRGANTARA 2000" dengan melakukan orientasi bisnis, dan strategi baru menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Untuk itu IPTN melaksanakan program retsrukturisasi meliputi reorientasi bisnis, serta penataan kembali sumber daya manusia yang menfokuskan diri pada pasar dan misi bisnis.

    Kini dalam masa "survive" IPTN mencoba menjual segala kemampuannya di area engineering - dengan menawarkan jasa disain sampai pengujian -, manufacturing part, komponen serta tolls pesawat terbang dan non-pesawat terbang, serta jasa pelayanan purna jual.

    Seiring dengan itu IPTN merubah nama menjadi PT. DIRGANTARA INDONESIA atau Indonesian Aerospace/IAe yang diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid, 24 Agustus 2000 di Bandung.

    Kita berkeyakinan bahwa industri ini harus terus mengikuti dinamika perkembangan jaman dan perubahan, agar upaya yang dirintis para pendahulu ini bisa tetap lestari serta memberi manfaat optimal bagi generasi mendatang. Untuk itu kita tetap berpijak pada sejarah.


  • Sumber : PT DIRGANTARA INDONESIA Bpk. Lili Irahali dalam bukunya (Kedirgantaraan Indonesia dalam Perspektif Sejarah)

    Senin, 08 Februari 2010

    FA-22 Raptor Best Fighter Jet in the World

    Manufacturer: Lockheed Martin [NYSE: LMT]

    The FA-22 Raptor is a symbol of Future Firepower. The Raptor encompasses advanced avionics, a very maneuverable airframe, and the ability to cruise at supersonic speeds without the use of an afterburner which increases it’s effective range. The F-22 can internally carry two 1,000 pound-class Joint Direct Attack Munitions or JDAM’s, along with a variety of air-to-air missiles. By carrying all of it’s munitions internally, the F-22 reduces it’s drag and adds to its stealth capabilities. The raptor can acquire targets and engage multiple targets simultaneously before the enemy aircraft even know what hit them. The f-22 raptor is the future of air superiority. I have included a testing video below so you can see the incredible capabilities of the f22 with your own eyes.

    The F-22 Raptor exemplifies the very pinnacle of air superiority. Decades of research have contributed to the ground-up design of this plan that was forged from the outer limits of chemistry, aerodynamics, materials science, and engineering. The F-22 Raptor was the first jet designed completely by computer before a model was fabricated. The design incorporated a concept known as continuous curvatures, and when combined with the RAM radar absorbent skin of the aircraft; enemy radar waves simply flow past like water. The continuous curvature is clearly visible in the F-22 when compared with the accompanying F-15 Eagle. The F-22 has been slated to replace the F-15 in the air dominance role. Another stealth feature is the internalization of the weapons system, which also helps to preserve the continuous curvature.

    Imagine this scenario, a squadron of 5 F-15 Eagles is heading straight into enemy territory for a strike. The enemy scrambles fighters to intercept them. A pair of stealth F-22 fighters fly ahead of the F-15s, and the enemy only sees the F-15s on their radars. The F-22s lock onto each incoming interceptor, and can fire missiles before the enemy ever knew what hit them. That is air superiority.

    he maneuverability of the F-22 Raptor truly is amazing. The F-22 is much more stable in low speed maneuvers than all of its predecessors. The F-22 can achieve vertical flight quickly after take off and pull some unbelievable maneuvers. F-15 pilots cant touch the Raptor in mock dogfights during flight tests. The F-22 Raptor is widely known as the most advanced and best military aircraft ever built. With a maximum speed of over Mach 2, advanced avionics, and stealth technology, the F-22 raptor truly is in a class of its own. Watch the video below to see the advanced stability and maneuverability of the F22 Raptor.

    Sumber : http://www.futurefirepower.com

    Sukhoi SU-47 Berkut


    The SU-47 is an amazing looking aircraft, especially while in flight. Nicknamed the Golden Eagle, the SU-47 has a reduced radar signature, thrust vectoring, advanced fly-by-wire technology, and most notably a very unique forward swept wing design. The Sukhoi SU-47 is extremely maneuverable at subsonic speeds and has a maximum speed of mach 1.6. The SU-47 can carry a variety of air-to-air and air-to-ground munitions. Many sources try to compare the SU-47 to the F-22 Raptor. In reality, the F-22 Raptor is in a class of its own.

    Sumber : http://www.futurefirepower.com

    V22 Osprey - Hybrid Helicopter Aircraft of the Future


    Obviously, getting troops to the battlefield as quickly as possible is a paramount concern for military planners. Choppers can carry many troops, but really can’t fly very far or fast. Planes can get troops there quickly, but where can you launch transport planes without a runway? Aircraft carriers are too small, nevermind the deck of an amphibious assault ship. Clearly, a solution is needed for high speed troop transport in a scenario of limited runway space. Necessity is the mother of all inventions, and respectively the Americans invented the V22 Osprey to fill this vital role. Employed by the United States Marine Corp, the V22 Osprey is the only tiltrotor aircraft in production by any nation’s armed forces. Combining the essential elements of the vertical take-off of a helicopter with the speed and mid-air refueling of a convential airplane, the V22 Osprey can get lots of troops to anywhere, and fast. The top speed of the Osprey stands at around 316 mph, where the closest helicopter comparison, the CH-47 Chinook transport, only reaches 196 mph. In support of a high speed amphibious invasion, this aircraft is intended to work alongside the Marine Corp’s new LCAC’s and EFVs, which will enable the US Marines to rush up to any shoreline with overwhelming force.


    Sumber : http://www.futurefirepower.com/

    Kamis, 04 Februari 2010

    N-219 Performance & Features


    N-219

    N-219 is a new generation of aircraft, designed with a true multi mission and multi purpose on remote areas in mind. It combines the most modern and robust aircraft system technologies with tried and proven all metal aircraft construction.
    It has the largest cabin volume in its class and flexible door system to be efficiency utilized in multi mission passenger and cargo transport.

    MAIN FEATURES

    Designed per FAR 23, Commuter catagory
    • Multi Purpose, highly re-configurable
    • 19 Passenger, three abreast
    • Mixed cargo passenger
    • STOL performance
    • Low operating cost
    PERFORMANCE
    • Maximum cruise speed :213 kts (395 km/hr)
    • Economical cruise speed :190 kts (352 km/hr)
    • Maximum ferry range : 1,580 Nm
    • Take-off distance (35 ft obstacle) : 465 m,ISA,SL
    • Landing distance (50 ft obstacle) : 510 m,ISA,SL
    • Stall speed : 73 kts
    • Maximum take-off weight : 7,270 kg ( 16,000 lbs )
    • Maximum payload : 2,500 kg (5,511 lb)
    • Rate of climb 2,300 ft/min all engine operative
    • Range : 600 Nm







    Sumber: PT. Dirgantara Indonesia

    Rabu, 03 Februari 2010

    N-219 PT DIRGANTARA INDONESIA


    N-219 pengembangan dari CN-212.

    Jakarta, - Rancangan pesawat N-219 yang dibuat PT Dirgantara Indonesia (DI) akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin, bulan depan, kata pimpinan Proyek Konfigurasi Pesawat NMX-1 PT DI Untung Widjojono.

    "Kalau konfigurasi kesalahan tidak banyak maka perancangannya dianggap layak diteruskan ke perancangan detil untuk dimanufaktur dan kemudian diasembling sehingga menjadi sebuah prototipe," kata Untung Widjojono di anjungan PT DI di Ritech Expo, di Jakarta, Senin.

    Menurut dia, prototipe pesawat itu akan diproduksi untuk keperluan komersial jika telah melalui uji dan sertifikasi.

    Dengan demikian, katanya, pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada kostumer pertamanya untuk diterbangkan sekira tiga tahun atau empat tahun lagi.

    Ia mengakui, pesawat seharga 4juta dolar AS itu (CN235 berharga 30 juta dolar AS) bisa saja kesulitan mendapatkan investor untuk dikembangkan secara komersial.

    Namun pesawat bermesin dua tersebut, kata dia, telah disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di tanah air, karena dirancang untuk digunakan di daerah-daerah terpencil untuk penerbangan perintis di Indonesia timur.

    Kawasan itu kebanyakan berelevasi tinggi, seperti pegunungan dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dan berlandasan pendek (sekitar 500 meter), juga sesuai dengan kawasan kepulauan yang jadi ciri khas Indonesia, ujar Untung.

    Pesawat dengan panjang badan sekitar 15 meter dan panjang sayap 20 meter denganan kecepatan maksimal 395 km per jam tersebut dirancang agar multiguna dengan biaya operasi yang rendah. (*)

    Sumber : ANTARA

    Minggu, 31 Januari 2010

    GREATEST FIGHTER PLANE


    F-22 Raptor, the most sophisticated combat aircraft
    and the deadliest in the world


    None of the aircraft on Earth that could beat him.
    This is the F-22 Raptor, a futuristic fighter plane from generation to 5.
    What is the advantage definitive fighter of the 5th generation of this than the 4th generation (F-14 s / d F-18)?
    This is the main advantage:

    1. Stealth
    The-art fighter plane is not going to look the enemy radar. If your plane can not be seen, then you will be almost impossible shot, dropped, and was defeated. The future of this technology mainly generated by the form of aircraft structural engineering and materials that absorb radar waves, RAM, Radar Absorbent Material.

    2. Mini AWACS, "First-look, first-shot, first-kill".
    F-22 aircraft has a radar with a range farther than other planes, even almost equal AWACS. This means that F-22 can see you long before you could see the plane. F-22 also has a system of super-sophisticated radar LPI (Low Probability of Intercept Radar), meaning aircraft that have been detected F-22 radar will not be able to know if he was detected and its warning radar will not light.

    3. Super Manuverabilitas.
    F-22 Thrust vectoring technology in the tail, meaning the engine energy expenditure can be directed to the more mechanically flexible. This makes higher maneuverability.

    Tips Mempercepat Browser Internet Tanpa Software

    Ini adalah DNS dari google yang bikin koneksi Internet kita jadi ngebut ..... !!
    Buat yang Pakai OS Windows Vista, Windows 7, dan Windows XP**
    1. Buka Control Panel.
    2. Klik Network and Sharing Center, kemudian Mengelola koneksi jaringan.
    3. Pilih koneksi yang pengen dikonfigurasiin Google Public DNS. Contoh:
    * Untuk mengubah pengaturan untuk koneksi LAN, klik kanan Local Area Connection, dan klik Properties.
    * Untuk mengubah pengaturan untuk koneksi nirkabel, klik kanan Wireless Network Connection, dan klik Properties.
    4. Pilih tab Networking. Klik Internet Protocol Version 4 (TCP/IPv4), dan kemudian klik Properties.
    5. Klik Advanced dan pilih tab DNS. Jika ada alamat IP server DNS terdaftar di sana, catat untuk referensi kalau nanti mau digunakan lagi.
    6. Klik OK.
    7. Pilih Use the Following DNS Server Addresses. Jika ada alamat IP yang terdaftar di server DNS Preferred atau Alternate DNS server, catat untuk referensi kalau nanti mau digunakan lagi.
    8. Ganti alamat IP dengan IP dari server Google DNS : 8.8.8.8 dan 8.8.4.4.
    9. Restart koneksi Internet ente, reconnect gan!
    10. Siap browsing kebut gan, jangan lupa pake sabuk pengaman... heheee

    **Windows XP pada step 4 Klik Internet Protocol (TCP/IP), dan kemudian klik Properties.


    SUKHOI T-50




    | January 30, 2010
    Rusia luncurkan Pesawat Jet generasi ke lima Sukhoi T-50, yang diproduksi perusahaan Sukhoi dan dikenal sebagai PAK FA , uji coba Sukhoi T-50 dengan melakukan penerbangan hanya 45 menit di pangkalan perusahaan itu Komsomolsk-on-Amur, wilayah Timur Jauh. "Penerbangan itu berhasil dan berlangsung 47 menit.

    Jet Tempur Sukhoi T-50 memiliki kemampuan melakukan penerbangan jauh di atas kecepatan suara serta dapat menyerang secara serentak target-target yang berbeda, wow keren bener pesawat ini dan Rusia kini memulai satu program besar untuk melengkapi kembali militer terutama angkatan udara yang masih menggunakan banyak peralatan era Sovyet dan sering mengalami kecelakaan. Pesawat tempur baru itu, yang dibangun sejak tahun 1990-an menurut rencana akan memasuki jajaran angkatan bersenjata tahun 2015, kata kantor-kantor berita Rusia.